Kamis, 10 Mei 2012

AYAT YG MENJELASKAN TENTANG ORANG KAYA


AYAT-AYAT YANG MENJELASKAN TENTAN ORANG KAYA
Bismillahirrahmanirrahim
Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash: 77)
Membaca ayat tersebut di atas, petunjuk Allah SWT kepada kita adalah hendaknya kita memfokuskan diri lebih kepada kepada urusan untuk mempersiapkan bekal sesudah mati (akhirat). Sedangkan urusan kenikmatan/kebahagiaan duniawi, Allah SWT hanya mengatakan “laa tansa = jangan kamu lupa”, yang berarti ambillah secukupnya dengan bersikap zuhud terhadap dunia.
Dengan ayat ini ada yang berargumen, tidak mengapa seorang muslim memiliki rumah mewah, mobil mewah, dst asalkan masih mengingat Allah. Apakah pantas mereka berargumen demikian sedangkan kemiskinan kian bertambah di negeri ini ?!
Kalau kita cermati, apa pengertian “jangan melupakan bagian dunia” adalah hendaknya kita senantiasa merasa cukup dengan kehidupan dunia, karena kehidupan dunia ini hanya permainan yang fana.
“Lalu, apakah boleh bercita-cita menjadi kaya?” Mungkin semua sepakat bahwa kekayaan adalah hal yang menarik, yang diinginkan dan didambakan oleh hampir semua orang. Akan tetapi siapa sangka bahwa ternyata tidak semua jenis dan kondisi kekayaan, kebercukupan, dan keberadaan adalah hal yang terpuji. Al-Qur’an ternyata menunjukkan bahwa Allah tidak selalu berpihak apalagi memuji orang kaya.
Dalam ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw kita temukan dua istilah yang berarti kekayaan. Ada istilah ghina (kaya), dan ada istilah tarof (mewah). Keduanya menunjukkan makna kekayaan, kebercukupan dan keberadaan. Tapi nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah punya sikap yang berbeda dengan kedua istilah tersebut.
Dalam al-Qur’an pemakaian akar kata ghina jarang dipakai untuk konteks mengecam. Al-Qur’an memakai kata ghaniyy untuk mengungkapkan sifat Allah Yang Maha Kaya. Sedangkan untuk manusia Allah memakai bentuk jamak (aghniya’) yaitu orang-orang kaya, seperti di surat al-Baqarah ayat 273, Ali Imran 181, dan at-Taubah 93 semuanya dalam bentuk nakirah (indefinite) dan dalam surat al-Hasyr ayat 7 dalam bentuk ma’rifah (definite). Dalam ayat-ayat tersebut Allah tidak menganggap kekayaan sebagai sesuatu hal yang tercela, Allah swt menyebutkan kata aghniya’ dengan netral.
Kalau kita lihat hadits Nabi saw kita akan temukan sikap yang sama terhadap ghina dan akar katanya. Rasulullah saw bahkan memuji kondisi kaya dalam banyak hal misalnya dalam hadits riwayat imam Muslim:
“Sedekah terbaik adalah yang dikeluarkan dalam keadaan cukup (kaya), dan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dari keluargamu.” (HR Muslim)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi Waqqash, Rasulullah saw bahkan mengatakan bahwa kondisi kaya bagi ahli waris lebih baik dari kondisi miskin tak berdaya. Rasulullah saw bersabda kepada Sa’d:
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka miskin meminta-minta kepada orang.(HR al-Bukhari dan Muslim)
Meskipun juga Rasulullah saw tidak mengajarkan kita untuk menjadi materialistis, menganggap bahwa kekayaan materi adalah segalanya. Rasulullah saw berkata bahwa
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya materi tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Itu tadi tentang istilah ghina, bagaimana dengan istilah tarof? Kita temukan dalam al-Qur’an bahwa orang-orang yang mutrof (bermewah-mewahan) selalu dikecam. Kata tarof dan akar katanya disebutkan tiga kali dalam al-Qur’an dan ternyata semua bernada mengecam.
Kita lihat bagaimana surat al-Waqi’ah berbicara tentang “golongan kiri” yang merupakan penduduk neraka. Di ayat 45 Allah menyebutkan sifat mereka:
“Sesungguhnya mereka sebelumnya (ketika di dunia) adalah orang yang bermewah-mewahan.” (QS. Al Waqi’ah: 45)
Kita baca lagi surat al-Israa’, dalam ayat ke 16 Allah swt berfirman:
“Dan jika Kami ingin menghancurkan sebuah negeri, Kami perintahkan orang-orang yang bermewah-mewahan dari mereka sehingga mereka berbuat dosa di negeri itu, lalu mereka berhak mendapakan ketentuan (azab), dan Kami hancurkanlah negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-Israa’: 16)
Dalam surat Hud juga ditemukan bagaimana pengaruh orang-orang yang bermewah-mewahan itu. Allah swt berfirman pada ayat 116:
“Dan orang-orang yang zhalim mengikuti kemewahan yang ada pada mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Hud: 116)
Dari sini secara umum kita bisa melihat perbedaan antara kekayaan yang terpuji dan kesejahteraan yang layak diperjuangkan, dengan kemewahan dan kehidupan glamour yang tidak dipuji bahkan dikecam oleh al-Qur’an.
Layak untuk direnungkan bagi kita terutama bangsa Indonesia yang sedang berjuang meraih kesejahteraan agar menyadari bahwa capaian materi yang diajarkan oleh Islam bukanlah kehidupan yang glamour dan berfoya-foya. Al-Qur’an membedakan antara kekayaan yang terpuji dengan kemewahan yang tercela.
Allah swt membolehkan bahkan mendorong adanya kekayaan bukan untuk dinikmati didunia ini semata-mata. Tetapi untuk diberikan kepada yang berhak, diinfakkan pada hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan umum, untuk membela agama dan negara, serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Sedangkan kekayaan yang hanya digunakan untuk berfoya-foya dan bahkan untuk menyombongkan diri, adalah bencana yang hanya mencelakakan sang pemiliknya saja.
Konglomerat generasi pertama Islam yaitu Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu pun yang termasuk dijamin masuk surga tidak berbuat mewah. Bila ia berkumpul dengan para pembantunya niscaya kamu tidak dapat membedakan mana Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu dan pembantunya dikarenakan pakaiannya yang sangat sederhana. Ia sadar dunia hanya tempat singgah sebentar saja. Itulah kehidupan generasi pertama Islam yang membacanya niscaya akan berurai air mata. Dunia dalam gengamannya tapi mereka tidak mau diperbudak oleh dunia. Semoga kita sadar akan hal ini.
Dari hadits-hadits dan kisah sahabat nabi, Abdurrahman bin ‘Auf di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa, sikap yang terbaik bekerja dengan optimal dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah, janganlah malas dalam bekerja, sehingga seorang akan menjadi lebih bermanfaat bagi umat, serta hendaknya tetap zuhud dengan hal-hal dunia.
Wallahu’alam bi shawwab..
(dari berbagai sumber).

Orang kaya, ia bias masuk surga karena hartanya, pun bias masuk neraka karena hartanya.
Maksudnya : Jika ada orang kaya yang hartanya didapati dari jalan yang  benar dan meyakini harta itu adalah titipan dari Allah kemudian mengeluakan zakat, sedekah, infaq, mensantuni anak yatim. Itu orang kaya dengan hartanya insya Allah masuk surga. Sebaliknya jika ada orang kaya dengan hartanya ia masuk neraka, hartanya ia dapati dari jalan yang tidak benar, ia mendapat hartanya dengan cara sikut atas jilat atas jilat bawah, rentenir, nipu orang kemudian setelah dapat harta pelitnya minta ampun itu orang kaya dengan hartanya akan masuk neraka. (Menurut Misbahruddin)
1.    Ayat yang menjelaskan tentang orang kaya terdapat seperti dalam
-          (QS. At Taubah Ayat 34-35)
-          (QS. Ali Imron Ayat 180)
Dan masih banyak yang dapat dijelaskan ayat dan hadits tentang orang kaya sebagai berikut :
Dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi di jelaskan banyaknya ancaman dan Neraka Jahannam menanti bagi orang kaya yang tidak memahami akan kuwajibannya yang harus di jalankan diantaranya :
وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ * يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ * سورة التوبة أية 34-35
“Dan Orang-Orang yang menyimpan emas dan perak (harta) dan tidak mau menInfakkannya kepada Sabillillah, Maka beritahukanlah pada mereka bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (Neraka). Pada harinya emas dan perak (harta) di panaskan di dalam Neraka Jahannam lalu di bakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu di katakana) Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri (tidak mau mengeluarkan zakatnya), Maka rasakanlah sekarang apa yang kamu simpan itu. [QS. At Taubah Ayat 34-35]”

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا آَتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ... الأية * سورة آل عمران أية

“Dan janganlah menyangka sungguh Orang-Orang yang Bakhil (pelit) dengan harta Alloh yang di berikan kepadanya, Bahwa kebakhilan-Nya itu baik bagi mereka, tapi sebaliknya kebakhilan itu buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan itu akan di kalungkan di leher mereka kelak di hari Qiyamat … [QS. Ali Imron Ayat 180]”

2.    Hadits Nabi

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ... الحديث * رواه صحيح البخاري
“Dari Abu Hurairoh berkata: Nabi bersabda: Barang siapa yang di beri harta oleh Alloh kemudian tidak mau menunaikan zakat-Nya, Maka harta tersebut pada hari Qiyamat akan di jelmakan menjadi seekor ular yang besar lagi gundul yang mempunyai dua taring dan kelak di hari Qiyamat akan di kalungkan pada mereka orang kaya yang tidak mau berzakat. [HR. Shohih Al Bukhori]”

Dan dalam menyikapi dalil tersebut diatas warga LDII yang rata-rata adalah warga yang ekonominya menengah kebawah bisa dan mampu menjalankan-Nya di antara-Nya suksesnya pembangunan Masjid, Pondok-Pondok Pesantren, Gedung DPD Kabupaten, Propinsi, Pusat dan lainnya
Dalam hal ini peran aktif para Muballight-Mubalilighot dan para Ulamak LDII dengan rutin dan berkesinambungan untuk senantiasa menasehati dan mengarahkan kepada Jama’ah LDII untuk senang dan hoby di dalam menyisihkan sebagian hartanya baik benda maupun tenaganya untuk Sabillillah yang tidak lain hanya untuk mengembangkan dan meramut serta mengagungkan Syair-Syair Alloh agar Anak cucu kita bisa senantiasa untuk beribadah yang tidak lain adanya sarana dan prasarana yang memadahi, dan jika kita mau untuk mengagungkan Syair Alloh termasuk mau menyisihkan sebagian hartanya untuk Sabillillah demi kelancaran di dalam beribadah, maka demikian itu termasuk dari Taqwanya hati berdasarkan firman Alloh dalam Al-Qur’an :

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ * سورة الحج أية 32
“Dan barang siapa yang mau mengagungkan Syair-Syair Alloh, maka demikian itu termasuk dari Taqwanya hati. [QS. Al Haji Ayat 32]”

3.      Ada beberapa  nasehat untuk orang kaya antara lain :

Ini juga nasehat untuk orang kaya yang berbentuk cerita Qorun dalam alquran, harta menurut alquran bagaimana? Apakah harta itu anjugerah ataukah ujian kepada manusia ? lalu bagaimana sikap kita terhadap harta itu  ?

Harta dapat menjadi nikmat apabila yang ia dicari dengan jalan halal dan dikeluarkan di jalan Allah, islam tidak hanya menjelaskan apa harta itu, untuk apa harta itu tetapi darimana diperoleh dan bagaiman menyalurkannya ?

Apabila harta itu diperoleh atas jalan yang dilarang oleh Allah maka harta itu adalah bencana yang dikirim oleh Allah didunia sebelum bencana diakhiratnya,Jada bermacam-macam pertanyaan Allah ketika menginjak padang mahsyar salah satunya adalah mengenai hartanya dan jawabannya itu akan menjadikan dia tergolong orang yang selamat yang akan digiring ke surga ataukah jatuh ke neraka.

Al-anfal 28 “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar[8:28]. Disana gamblang bahwa harta itu merupakan ujian dan cobaan kepada manusia setiap ujian itu pasti ada yang sukses dan ada juga yang gagal, yang selamat melewati ujiabn ini akan mendapat pahala yang besar dihadapan Allah.

Apabila mensyukuri pastilah akan ditambah oleh Allah dan yang mengkufuri ada azab yang pedih dari Allah. Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah fitnah ujian dan cobaan. Karena itu jangan terlalu bangga dengan ujian kita belum tentu kitaselamat atas ujian ini.

Harta ini merupakan ujian agar menampak indah dan tidak akan orang berhias dengan hartanya selamanya, harta dan anak merupakan hiasan dunia tapi sesungguhnya yang terbaik disisi Allah itu adalah amal sholeh.

Setiap umat itu ada cobaan dan cobaan untuk umat hari ini adalah harta, sebenarnya kikir itu tidak murni jelek, sombong tidak murni jelek tapi dimana diletakkan maka akan ketahuan keliatan jelek ataukah bagus. Alquran ini menyebutkan harta ini “khoir” sesuatu yang baik, kapan?? kalau digunakan dalam jalan yang baik, harta itu sebaik-baik penolong dijalan Allah

Harta itu bukan dijadikan tolak ukur kemuliaan dihadapan Allah dan ini ditolak Alquran, itu konsep yang salah yang sebenarnya ialah kalian tidak memberi makan orang miskin dan memuliakan orang yatim, apabila ia mampu memberi semua itu tadi maka ia akan menjadi mulia dihadapan Allah. [al-mukmin 55-56]
[23:55]
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa)[55], Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar {1008}[23:56] .

[Qs sabak 37] “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) {34:37}

Bukan berati harta banyak anak banyak ia deket sengan Allah yahg dekat dengan Allah ialah apabila ia gunakan harta untuk beramal sholeh dan anaknya dibimbing kejalan Allah


Alquran menceritakan orang kafir berpandangan harta mereka akan menyelamatkannya dari siksaan Allah dan akan kekal abadi bersama kenikmatan anggapan ini salah total maka ia jadi sibuk menumpulkan dan menghitung terus tanpa berfikir dia akan mati karena ia menganggap harta ini akan mengekalkannya ia baru sadar ketika sudah berada dalam kuburan tapi sadar saat itu percuma mustahil karena tidak akan kembali ke dunia lagi.

Allah menceritakan kepada kita ceritakan dalam alquran seseorang yang memiliki 2 (dua) kebun yang subur dan menghasilkan banyak hasil Allah tidak mendoliminya tidak mengurangi tapi dia masuk ke kebunnya dengan penuh congkak dan sombongnya membanggakan hartanya spontan dibakar habin kedua kebunnya itu ia baru sadar kalau hartanya itu bukan miliknya. kalau ketemu orang yang kaya cepet akrabnya dan memandang orang miskin mata sebelah, suka memamerkan kekayaannya dihadapan orang miskin Qorun pernah show dengan seluruh hartanya. Ia tidak meyakini adanya kiamat dan apabila ada kiamat ia meyakini kalau ia dibangkitkan pasti kaya juga spontan Allah membakar kebunnya dan akhirnya sadar.

Orang menjadi melampaui batas ketika beranggapan tidak butuh yang lain dan berbuat durjana di bumi Allah, kalau Allah mencurahkan semua rizki-Nya maka manusai akan semakin lupa dengan Allah, mak Allah hanya menurunkan sesuai kadarnya karena Allah Maha mengetahui.

Apabila orang sudah gila hartanya maka ia akan lebih kejam lagi daripada penguasa yang dholim, orang yang punya harta ingin mengatur semua Orang ia tidak mau didekte orang ia beranggapan ia yang paling benar dan berkuasa, seperti kaum nabi suaib karena nabi ingin mengatur harta-harta mereka maka yang pertama kali menolak adalah orang-orang yang kaya karena mereka tidak mau diatur. Qorun juga sudah kebal dengan nasehat karena beranggapan harta yang ia peroleh adalah dari kepandaiaanya sendiri bukan dari Allah, kalau Allah berkehendak mengapa Allah tidak membantu mereka (orang miskin) sendiri?? mereka tidak percaya neraka, tidak percaya hari kiamat, ini kadang diungkapkan tanpa sadar.



Orang yang selalu sibuk dengan harta tidak akan pernah konsekuen dengan agama,
[al fatah;11] “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfa'at bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [48:11]

Mereka orang-orang yang tidak bergabung dengan rosul dengan berbagai alasan, semua yang membawa kehancuran kita pada dunia dan akhirat itu adalah musuh. Kadang orang yang berharta itu ketika diberi dakwah kepada mereka bukan menjadi dekat kepada Allah tapi menjadikan mereka semakin jauh.

Ada ungkapan yang keliru dan menjauhkan dari Allah yaitu “Cari yang haram susah apalagi yang halal?” Ungkapan ini sangat berbahaya dihadapan Allah, mereka beranggapan kalau mencari yang halal ia pasti mati ini ungkapan yang salah. Harta di akhirat tidak akan pernah kita bawa paling kalau mati yang dibawa cuman kain kafan, bukan berarti kita dilarang menjadi kaya tapi jangan jadikan harta ini adalah tujuan hidup mereka akan tergelincir dalam kehancuran tapi jadikan harta ini sebagai wasilah dan yang menyambung kenikmatan dunia ke Akhirat karena disana kehidupan yang sebenarnya.

Harta ini milik Allah kita tidak punya apa-apa seperti ketika kita lahir dan kita mati cuman bedanya kalau mati kita membawa kain kafan, jangan memuji harta dan jangan pula mencelanya kecuali untuk Allah

Harta adalah sebaik-baik pembantu kita untuk selamat di akhirat, sesial-sial orang ialah apabila ia gila harta dan menuju kepada Allah tanpa membawa bekal, dunia ini adalah ladang kita untuk membangun kehidupan kita di akhirat, harta yang kekal adalah harta yang sudah diberikan untuk Allah. Harta bukan seseatu jika tidak dijadikan untuk amal untuk Allah tapi harta segala sesuatu jika kita gunakan untuk amal.



·         Mengenai cerita Qorun dalam [Qoshosh ;76-83]

1.      Jangan gembira yang berlebihan sampai congkak karena Allah tidak suka sombong sehingga lupa daratan, menerima khikmatan Allah yang membawa lupa kepada pemberi nikmatnya, melupakan semua ketentuan Allah amat gembira ini yang dilarang. Sombong itu menolak kebenaran menolak kebaikan, sombong bukan berarti memakai pakaian yang terbaik, orang yang sadar dirinya darimana berasal maka ia tidak akan congkak lagi,
2.      Kejarlah akhirat dari harta-harta ini untuk pelantara memakmurkan kehidupan akhirat, orang dengan hartanya bisa menjadikan ia lebih dekat dengan Allah, jangan jadi orang yang tidak menimati dunia dan di akhirat tidak dapat apa-apa. Harta yang telah keluarkan itu milik kita bukan harta yang masih kita simpen belum pasti milik dia.
3.      Pertama Allah tidak memerintahkan mengeluarkan semua harta maka nikmatilah dunia ini, karena Allah senang kalau yang diberi tadi menikmatinya apa yang Allah berikan semua ini niatkan untuk akhirat kitapun memperolehnya pahalanya di akhirat.

Kedua [al-a'rof; 32] Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat {536}." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.
4.      Berbuat baik seperti Allah berbuat baik kepadamu, sering manusia menepuk dadanya ia kira semua itu dari kepandaiaanya bukankah Allah yang mengirim semua ini kembalinya semuanya dari Allah, kitakan tidak mau Allah memutus rizki kita maka kita harus berbuat baik kepada sesama juga, maka jangan putus rizki orang-orang yang membutuhkan dari harta-hartamu, apabila kita berbuat baik maka yang pertama kali untung pertama kali adalah sipemberi karena pahalanya dilipat gandakan Allah baru orang lain merasakannya, kikir berarti kikir untuk dirnya sendiri.
5.      Jangan berbuat durjana melalui harta ini untuk meresahkan bumi Allah, harta ini akan menjadi bencana bila yang memegang tangan yang salah, berapa banyak orang yang tunduk oleh orang berharta, undang-undang bisa diubah oleh orang-orang berharta, bacalah surat (al-Qolam dan al-kahfi).

Sumber :
- Sentuhan Qolbu Bersama Habib Muhammad bin Alwi Pasrusuhan
-      www.pasfmpati.com Streaming PukuL 00:00 Wib
-     www.jkmhal.com
-    websitestory.co.cc












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar